News

 

 

 

28 Januari 2010, 14:36:32
DPR TEMUI PENGUNJUK RASA
RIEKE DYAH PITALOKA Anggota Komisi 9 Fraksi PDI Perjuangan menemui pengunjuk rasa buruh di gedung DPR RI, Kamis (28/01). Dalam orasinya RIEKE mengakui kalau kebijakan pemerintah memang belum pro rakyat. Sejak aktif di LSM sampai menjadi anggota DPR,RIEKE yang dulu artis ini berjanji akan terus berjuang bersama buruh.(faz)
(Foto : FAIZ Suara Surabaya) 

//

“Buruh Komponen Aksi Bersama Bergeak ke DPRD Jatim”

suarasurabaya.net| Massa buruh yang mengatasnamakan Komponen Aksi Bersama berjumlah 200 massa mulai bergerak menuju DPRD Jawa Timur.

Selain Serikat Pekerja Nasional, Aliansi Buruh Sidoarjo juga tergabung di dalamnya. Menggunakan satu truk komando mengangkut sound system dan ratusan motor, massa membawa atribut untuk berunjuk rasa seperti bendera dan poster yang berisi aspirasi mereka.

Pantauan suarasurabaya.net, Kamis (28/01), massa akan mengajukan 12 tuntutan yang diantaranya meminta SRI MULYANI diberhentikan karena terlibat bailout Bank Century Rp 6,7 trilyun dan kebijakan Asean-China Free Trade Agreement (AC-FTA) yang membuat perusahaan bankrut dan memiliki alasan untuk memecat mereka.

Sebelum bergerak ke DPRD Jawa Timur, massa sempat berkumpul dan berorasi di depan pintu keluar Terminal Bungurasih sambil menunggu rombongan buruh dari kabupaten/kota lain.(edy/git)sby/28/01/2010

 

“Mari Kita Jual Negeri Ini”

Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya.

Halaman Istana Merdeka ditaksir gempita. Puluhan ribu mahasiswa akan melakukan unjukrasa. Mereka memprotes kinerja Kabinet Indonesia Bersatu jilid dua yang dinilai gagal. Amburadul menangani Bank Century, dan ‘no reken’ menguak aktivis yang hilang diculik. Ini ‘demo masa lalu’ di tengah ancaman masa depan yang tidak terbayangkan.

Unjukrasa telah menjadi gaya hidup negeri ini. Itu sebagai cerminan negara demokrasi. Tujuannya agar vox populi vox dei mendarah daging, kakek-nenek berkesadaran, dan cucu-cicit terlahir sebagai demokrat tulen.

Sebagai ‘penguasa’ rakyat harus cerdas dan matang. Itu syarat paripurnanya demokrasi. Tanpa itu negara akan chaos gara-gara ‘rakyat nyinyir’. Stabilitas terganggu, kesejahteraan terabaikan, dan demokrasi yang diidamkan beralih rupa menjadi anarkhisme. Maklum, demos kratos dan anarkhi memang sekeping mata uang.

Otot-ototan, bentak-bentakan dan makian wakil rakyat adalah bagian dari itu. Ini sebagai bentuk ‘ketidakcerdasan’ dan ‘ketidakmatangan’. Mereka belum punya etika sebagai pembawa amanat rakyat. Dan belum dewasa sebagai etalase ‘suara Tuhan’.

Wakil rakyat menjadikan demokrasi sebagai ‘hantu’ yang ditakuti. Itu yang ditiru calon politisi dan calon wakil rakyat. Bukan diplomasi cerdas sebagai alat ungkap menggolkan ‘keinginan rakyat’, tetapi agitasi dan tindakan yang mendekati barbarik. Jangan kaget jika demo mahasiswa pun tidak jauh buah dari pohon tumbuh.

Aksi demonstrasi dan perdebatan yang terjadi semuanya mengatasnamakan rakyat. Memperjuangkan nasib rakyat. Rakyat yang mana? Rakyat hanya alat menutupi kepentingan pseudo segelintir elit politik. Bagi saya, demo yang berhati nurani hanya yang digelar kaum buruh memperjuangkan nasibnya.

Melihat apa yang terjadi, rasa-rasanya Indonesia ke depan bakal jadi koloni. ‘Penjajah’ telah diundang masuk sambil dikalungi bunga. Dimanja fasilitas dan kemudahan. Berkat itu kita bangga berkendara dan berbusana asing. Lahap menyantap makanan asing, belanja di toserba asing, serta kongkow di hotel asing. Sampai-sampai ‘jajan pasar’ buatan mbok-mbok pun tersingkir oleh jajan sama yang berpita imut-imut bak boneka barbie.

Tahun 2010 ini buruh pabrik dan home industry menjerit. Kesabaran mereka runtuh. Barang ilegal China menggusur produknya dari Pasar Tanah Abang dan terpaksa dijual sebagai barang afkir di Tegal Gubuk, Indramayu ternyata kini juga tertumbuk produk sama. Perdagangan bebas Asia berlaku efektif, hingga ‘pasar kaget’ itu juga tidak memberi ruang bagi garmen dalam negeri.

Kain made in China dan mainan anak memenuhi pasar. Hampir pasti tidak lama lagi seluruh pabrik lokal rontok, berguguran satu-satu, disusul PHK, amuk kaum buruh kehilangan mata pencaharian dan gelap mata akibat tangis anak dan istri yang tidak bisa makan.

Rakyat kecil dan kaum papa telah kalah segalanya. Mereka mau mengadu ke siapa? Wakil rakyat ribut untuk rebut jabatan bukan untuk mengembalikan uang rakyat (negara). Demo tidak punya dana. Mahasiswa yang perkasa tidak tertarik dengan ‘soal kecil’ urusan perut wong cilik.

Jika kue lokal kalah bersaing dengan kue asing, toko pracangan (toko kelontong) dikalahkan super market asing, garmen serta mainan anak lokal tidak laku, serta wakil rakyat dan mahasiswa hanya memperjuangkan ‘rakyat elit’, maka rakyat bawah yang mayoritas penghuni negeri ini nasibnya ibarat layang-layang putus tali. Untung masih ada Gusti Allah. Rakyat pasrah diri. Hanya Dia tempat berkeluh kesah.

Tapi adakah hanya wong cilik yang menderita akibat globalisasi? Ingat dua tahun lagi perdagangan bebas dunia berlaku di negeri ini. Pak Harto sudah menandatangani itu saat Bill Clinton datang ke Indonesia. Jika masa itu tiba, tidak hanya China menggusur pekerjaan ‘masyarakat bawah’, tapi kalangan menengah juga akan terjaring gelombang PHK.

Saat itulah seluruh perusahaan milik asing dikendalikan asing dan pribumi ribut sendiri. Berdemo memprotes kemana-mana. Bertindak anarkhis karena terlambat berkesadaran. Kasus SARA bagian tidak terpisahkan. Dan kita bakal meniru tingkah bonek yang cuma bermodal ‘nasionalisme’ doang.

Mari berjuang untuk rakyat yang sebenar-benar rakyat jika kita masih sayang terhadap negeri ini. Tapi jika egoisme dan pamrih sesaat yang menjadi tujuan, mari kita jual saja negeri ini.Jkt/27/01/2010
*Djoko Suud Sukahar: pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.

“Massa SPN Unjukrasa tolak ACFTA”

suarasurabaya.net| Sekitar 200-an massa Serikat Pekerja Nasional (SPN) melakukan unjukrasa menolak Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA) diberlakukan di Indonesia. Mereka mendesak DPRD dan Gubernur Jawa Timur menyampaikan penolakan ini ke pemerintah pusat.

Massa SPN yang berangkat dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur ini sebagian besar menggunakan sepeda motor ditambah dengan satu unit truk pembawa sound system.

Dalam unjukrasanya di depan gedung DPRD Jawa Timur, massa disambut sekitar 650 anggota polisi ditambah alat pengamanan berupa sebuah water canon.

SUDARMAJI Ketua SPN Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Kamis (21/01) mengatakan perjanjian perdagangan ini merugikan buruh di Jawa Timur. Ketika persaingan semakin bebas, industri di Jawa Timur yang tidak bisa bersaing dengan produk-produk asing terutama dari China akan semakin terpuruk. Dampaknya, para pekerja terancam PHK massal.

“Dengan dalih kalah bersaing atau krisis, biasanya pengusaha seenaknya memecati pekerjanya. Kita tidak ingin itu terjadi. Untuk itu, tolak pejanjian perdagangan bebas Asean-China itu mulai dari sekarang, sebelum pengaruh buruknya semakin meluas!” kata dia.

Setelah diterima anggota DPRD Jatim, massa SPN akhirnya bergeser ke kantor Gubenur Jatim di Jl. Pahlawan. Aksi unjukrasa ini mendapatkan pengawalan sangat ketat karena informasi awal, massa yang terlibat mencapai 2 ribu orang.(edy)sby/21/01/2010

“Unjukrasa SPN,Polisi Kecele”

suarasurabaya.net| Jumlah massa Serikat Pekerja Nasional (SPN) yang tidak seusai dengan laporan dan informasi intel kepolisian membuat aparat yang melakukan pengamanan kecele. Pasalnya, polisi telah menyiapkan pengamanan di depan gedung DPRD Jatim dengan asumsi massa 2 ribu orang.

“Kita menyiapkan personel untuk menjaga unjukrasa ini sebanyak 650 orang dengan peralatan lengkap, termasuk ada water canon karena menerima informasi peserta unjukrasanya 2 ribu orang. Eh…ternyata hanya 200-an orang saja,” kata AKBP DJOKO HARI UTOMO Kapolres Surabaya Utara.

Pantauan suarasurabaya.net di depan Gedung DPRD Jatim, Kamis (21/01), pengamanan untuk aksi unjukrasa kali ini memang cukup ‘istimewa’ untuk ukuran pengamanan aksi yang diikuti hanya 200-an orang. Kalau biasanya 200-an anggota sudah cukup untuk mengatasi aksi unjukrasa kecil, kali ini polisi menambah peralatan water canon.

Kendati demikian, kata DJOKO, kondisi pengamanan seperti ini lebih baik ketimbang kekurangan personel. “Kita tidak boleh underestimate, lebih baik seperti ini agar kondisi bisa kita kendalikan,” kata dia.

Namun tentu saja konsekwensinya adalah pembengkakan anggaran konsumsi anggota. Ditanya soal anggaran konsumsi, DJOKO mengaku tidak tahu persis anggarannya. “Konsumsi untuk anggota hanya nasi kotak biasa dan air mineral untuk 650 orang,” kata dia.(edy)sby/21/01/2010

Teks Foto :
– Polisi melakukan pengamanan unjurkasa massa SPN di depan gedung DPRD Jatim.
Foto : EDDY suarasurabaya.net


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: